Tampilkan postingan dengan label seputar fisioterapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seputar fisioterapi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Mei 2015

Kongres ke-6 APTSA (2015)

Asia Physical Therapy Student Association (APTSA), merupakan sebuah kongregasi asosiasi mahasiswa dari 10 negara yang berbeda di Asia yang meliputi Taiwan, Hong Kong, Korea, Jepang, Filipina, Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand dan Myanmar.

Tujuan dari kongregasi ini adalah untuk meningkatkan kerjasama regional dan interaksi antara mahasiswa Fisioterapi dan meningkatkan daya saing internasional mahasiswa Fisioterapi di Asia.

Kongres ke-6 Asia Physical Therapy Student Association akan diselenggarakan pada 7-9 Agustus 2015 di The Hong Kong Polytechnic University. Tema utama dari Kongres adalah "Peran Olahraga Fisioterapi".

Jadwal tentatif Kongres adalah sebagai berikut, dengan rincian diperbarui kemudian di website resmi APTSA:

Jadwal
Tanggal
Event

7 Agustus 2015 (Jumat)


City Tour


8 Agustus 2015 (Sabtu)

Guest lectures
Lab tour
Cultural night

9 Agustus 2015 (Minggu)
Country presentations - Main theme
Country presentations - Theme to be decided by academic department
 
Prosedur Registrasi
Langkah pertama
Register di link ini sebelum tanggal 31 Mei 2015
Langkah kedua
Transfer biaya yang diperlukan ke akun bank sebelum tanggal 5 Juni 2015 yang telah dirincikan melalui email pribadi setelah anda melakukan registrasi. Registrasi Early Bird dianjurkan karena ketersediaan akomodasi tidak bisa dijamin jika tidak ada deposit yang dilakukan pada waktu yang telah ditentukan.
Langkah ketiga
Fotokopi kartu pelajar dan Nota untuk slip deposit dengan nama yang tertera (jika berlaku) dan bawa ke kongres untuk keperluan verifikasi.















Biaya Registrasi
Biaya City Tour
Peserta
Early Bird
On Site
US $ 22 (tergantung perubahan)
Pendaftar di luar negeri
US $45
US $55
Mahasiswa lokal – Anggota HKPC
HK $320
Mahasiswa lokal – non anggota
HK $390








Source : APTSA Facebook & HK Physiotherapy Concern

Sabtu, 17 Mei 2014

Seminar Fisioterapi 2014 & Launching Buku

Pada tanggal 13 April 2014 yang lalu, Himafisio FK-UH melaksanakan seminar yang membahas Permenkes Nomor 80 Tahun 2013 dengan bentuk diskusi panel dan dirangkaikan dengan launching buku Fisioterapi dengan judul “Tes Spesifik Muskuloskeletal”.

Seminar ini dianggap perlu untuk diselenggarakan guna mengenal dan mengkaji lebih dalam isi Permenkes tersebut. Dengan memahami isi Permenkes, diharapkan insan fisioterapi dapat lebih siap menjawab tantangan-tantangan profesi fisioterapi.







Minggu, 30 Maret 2014

Prinsip Tumbuh Kembang & Perkembangan Motorik Anak

Cakupan ilmu fisioterapi begitu banyak, salah satunya mengenai tumbuh kembang dan perkembangan motorik anak, oleh karena itu, bagi Anda yang berminat dengan fisioterapi pediatric, silahkan mengunggah file ini.

Semoga bermanfaat!

Jenis-jenis Penyakit Jantung Menurut Ilmu Fisioterapi

Penyakit jantung erat hubungannya dengan sistem kerja tubuh kita. Tidak terkecuali sistem gerak fisik. Oleh karena itu, peran fisioterapi sangat besar dalam pemeliharaan dan pemulihan kesehatan jantung. Adapun jenis-jenis penyakit jantung menurut ilmu fisioterapi dapat anda dapatkan di sini adapun sistem pemeriksaan jantung, anda bisa dapatkan di sini

Selamat berbagi ilmu!

Kamis, 27 Februari 2014

Prinsip Fisioterapi Olah Raga



Manajemen patologi untuk injury yang dialami atlet dibagi menjadi 3 bagian :
•          Damage control, facilitation of repair, dan reconditioning of the recovered lesion
•          Prinsip dasar manajemen tiap fase harus mempertimbangkan keparahan injury, struktur terlibat, riwayat injury, dan pembedahan (jika ada)
Manajemen akut fisioterapi olahraga adalah PRICER untuk menajemen akut soft tissue injury. PRICER terdiri dari:
1.  Protection
Secara umum, proteksi merupakan tindakan2 yang membatasi aktivitas atlet untuk mencegah lesi menjadi lebih parah dan menempatkan bagian yang terluka tersebut pada posisi yang aman dan nyaman
2.  Rest
Atlet dinstruksikan untuk beristirahat. pada early stage, atlet diharuskan beristirahat untuk menurunkan TD dan mencegah hemorrage menjadi lebih parah
     3. Ice
Es berfungsi untuk menurunkan nyeri, mengurangi pendarahan dan bengkak, serta meminimalisir secondary hypoxic injury. waktu maksimal penggunaan es selama 20 menit.
4. Compression
Penggunaan compression bandage terhadap injury dapat mengontrol swelling dan meminimalkan respon inflamasi. Kompresi dapat mengembalikan sirkulasi normal lebih cepat dan drainase limfatik di area yang terluka
5. Elevation
Elevasi berfungsi untuk mengurangi tekanan intravaskular lokal, sehingga mengurangi pendarahan dari pembuluh darah yang rusak. Selain itu, elevasi juga memfasilitasi drainase cairan interstisial menuju sirkulasi sentral
6. Referral
Penempatan faktor ini pada akhir PRICER menghimbau semua prictitioners (pelatih, dokter, dll) untuk menyadari keterbatasan mereka dalam pengelolaan cedera olahraga akut. rujukan ke rumah sakit dan pusat kecelakaan darurat, ke dokter atlet sendiri, seorang fisioterapis olahraga atau seorang dokter olahraga atau spesialis harus dipertimbangkan ketika penyelidikan lebih lanjut, intervensi atau pengawasan diperlukan, misalnya ketika evaluasi radiologis segera diperlukan, atau pemain dengan cedera kepala membutuhkan pengamatan yang memenuhi syarat untuk beberapa jam.

Ongoing Management-Promotion of Healing
Tahap ini merupakan fase penyembuhan dari matriks dan sel proliferase menjadi fase proliferasi. Berlangsung selama antara 72 jam sampai 6 minggu (Oakes 1992). Pada fase ini melibatkan sel fagositosit (makrofag dan monosit) yang berfungsi untuk mensintesis penyembuhan lesi.
Adapun tujuan fisioterapi pada fase iini adalah:
•          Mengurangi pembengkakan
•          Memfasilitasi oksigenasi dan nutrisi dari siklus cedera
•          Mengembalikan pola gerak yang normal
•          Mencegah atau meminimalisir keparahan yang lebih jauh
•          Menghindari cedera berulang
Kemudian tindakan fisioterapi pada fase penyembuhan (healing) antara lain:
•          Massage
•          US dosis rendah
•          Arus listrik
•          Stimulasi listrik pada otot
•          Exercise
•          Instruksi kepada pasien mengenai pembatasan dari kegiatannya.
Sedangkan tindakan fisioterapi pada fase perbaikan (Repair) antara lain:
•          Intensitas dari latihan ditingkatkan.
•          Massage dan stretching (peregangan) dapat ditingkatkan.
Fase Rehabilitasi olah raga
Ada 3 prinsip fase rehabilitasi, yaitu :
1. Pemberian stress (tegangan),
2. Adaptasi spesifik untuk rangsangan tertentu,
3. Adaptasi kemampuan dalam pemberian beban yang akan terus ditingkatkan sesuai kondisi recovery atlet
Maintenance fitness
Pemeliharaan fisiologi parameter memastikan bahwa atlit kembali kepelatihan dan kompetisi dalam kondisi fisik terbaiknya, sehingga memaksimalkan performan dan meminimalkan resiko cedera lebih lanjut.  Untuk mencapai hal tersebut seorang FT membutuhkan pengetahuan teori maupun practice dan beberapa pengalaman dalam penerapan prinsip prinsip tersebut, baik dalam rehabilitative maupun pembinaan atlit.
Berikut bagaimana menerapkan prinsip prinsip yang diberikan, meragsang minat dan pemanfaatan illustrate.
–        Baseline parameters
Bekerja dengan tim atau kelompok atlet secara teratur memberikan kesempatan untuk menguji skuad selama fase persiapan pelatihan. Pengujian dapat terdiri dari pengukuran fisiologis atau penilaian fungsional yang relevan dengan olahraga, atau kombinasi dari keduanya.  Hal ini sangat berguna jika atlet akan pulih dari cedera, dalam hal tes dapat membantu memutuskan kapan seorang atlit dalam kembali kekompetisi .
Misalnya, bekerja sama dengan tim basket, Anda mungkin melakukan tes pra-musim yang meliputi  data antropometri, (tinggi, berat, persentase lemak tubuh); data fisiologis (diprediksi uji penyerapan oksigen maksimal); dan  tes fungsional seperti jarak yang ditempuh dengan 10 hop (uji masing-masing kaki); waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kelincahan yang telah ditetapkan dilaksanakan dalam stadion dengan pengulangan cepat, melompat vertikal ke titik di mana kelelahan membatasi kinerja untuk 75% dari perbedaan antara jangkauan berdiri dan tinggi melompat vertikal.
Tes yang menyerap oksigen akan memberikan indikasi kelelahan terhadap pemain, yang menarik bagi pelatih dan terapis untuk kinerja dan keselamatan merupakan alasan masing-masing. Tes yang tepat akan bervariasi antara olahraga dan harus dikembangkan bersama dengan staf pelatih. ingat bahwa tes fungsional harus sesuai dengan upaya selama pemulihan cedera. Maksudnya perhatikan cedera yang diderita atlit
–        Strength training
Fisioterapis sering memanfaatkan isometric sebagai latihan kekuatan, terutama dalam kaitannya dengan program stabilisasi dengan otot perut, medialis vastus, hamstring, otot scapula dan otot cervikal postural. Namun tidak menutup kemungkinan strengthening juga dilakukan dengan isotonic dan isokinetik.
–        Energy system
Konsep pelatihan jalur energi tidak hanya berlaku untuk bersepeda, berlari, berjalan atau berenang, juga dapat diintegrasikan ke dalam latihan beban dan sirkuit pelatihan menggabungkan bobot, fleksibilitas dan daya tahan kegiatan.
Pelatihan perlawanan berat adalah anaerobik (karena tingkat pengulangan rendah), resistensi cahaya dapat digunakan untuk meningkatkan panjang dan tingkat latihan sehingga meningkatkan denyut jantung dan menempatkan tuntutan aerobik pada jalur energy; latihan fleksibilitas dapat digunakan sebagai waktu istirahat di sirkuit di mana utang oksigen dilunasi sebelum jeda lain aktivitas glikolitik atau aerobic.

–        periodization
Ketika melakukan sebuah program pelatihan fisiologis bersamaan dengan rencana rehabilitasi, tahap program pelatihan para atlet itu adalah di harus ditentukan, yaitu apakah persiapan fase, sebuah pre-competitive fase atau transisi tahap setelah mencapai puncak (rushall and pyke 1990). Keseimbangan volume dan intensitas pengkondisian kerja bervariasi sesuai dengan perkembangan kemampuan motoriknya.

Maintenance of Skill
Pemeliharaan skill atlet ini mencakup tiga garis besar, yaitu latihan motorik, pelatihan mental, dan fatique.
-       Latihan motorik
Menggunakan prinsip-prinsip motor learning, atlet bisa tetap berhubungan dengan bagian komponen keterampilan nya selama rehabilitasi. Skill related, meliputi : kecepatan, power, keseimbangan, kelincahan, kordinasi, dan kecepatan reaksi (Mutahir & Gusril, 2004).
Adapun tahapan latihan motorik atlet, yaitu
Training Phase
Characteristics
Basic preparatory
pre-season stage
high volume
low intensity
non-spesific
Spesific preparatory
early season stage
volume decrease
instensity increase
activities become more sport-spesific
pre-competitive
volume derease further
intesnsity becomes very high
sport-specificity paramount
may taper before competitive stage events
competitive
peaking' stage
low volume
high intensity
totally spesific to performance
transition
off-season stage
sufficient volume & intensity to prevent 'detraining'
non-spesific, may involve other sports or cross-training


-          Latihan mental
Latihan mental yang lebih realistis dan sempurna, retensi yang lebih baik pd tingkat keterampilan yang optimal. ini hanya membutuhkan 10-15 menit per hari dari aplikasi, tetapi melibatkan konsentrasi yang kuat dengan gangguan minimal. pelatih mungkin bisa membantu dengan saran keterampilan atau strategi yang membutuhkan pekerjaan ekstra dengan cara ini.

-          Fatique
Kelelahan dapat digunakan sebagai penilaian atau alat rehabilitasi yang berharga dan berlaku untuk kembali aman atlet untuk tingkat kinerja kompetitif


Obesitas Pada Anak

Obesitas atau kegemukan pada anak sering kali dianggap lucu atau menggemaskan. Namun perlu kita sadari bahwa obesitas pada anak dapat "mengundang" beberapa penyakit yang membahayakan. Perlunya antisipasi sedini mungkin untuk mengontrol asupan nutrisi bagi si Kecil untuk menghindarkan dia dari bahaya obesitas. Selain mengontrol asupan nutrisi, olah raga juga menjadi salah satu cara menghindari obesitas.
Materi yang akan kami bagi kali ini mengenai obesitas pada anak, yang merupakan salah satu cakupan ilmu fisioterapi pediatri. Untuk mengunduh file, silahkan klik di sini.

Selamat berbagi informasi!

Sabtu, 28 Desember 2013

Dasar-dasar Fisioterapi Ergonomi

Ergonomi adalah ilmu terapan yang menjelaskan interaksi antara manusia dengan tempat kerjanya. Ergonomi antara lain memeriksa kemampuan fisik pekerja, lingkungan kerja,dan tugas dilengkapi dengan mengaplikasikan informasi ini dengan desain model alat, perlengkapan, metode kerja yang digunakan dengan aman untuk keselamatan kerja para pekerja. Tujuan akhir dari program ergonomi adalah untuk kesempurn/n kerja dengan meminimalkan tekanan kerja para pekerja.

Terdapat banyak prinsip dasar ergonomi yang harus diketahui oleh insan fisioterapi, untuk itu kami ingin berbagi info mengenai fisioterapi ergonomi.

Untuk materi dasar-dasar fisioterapi ergonomi, silahkan mendownload file-nya di sini.

Minggu, 24 November 2013

Kondisi Paraplegi

Sedikit informasi mengenai syndrom pada kondisi paraplegi, dan area cideranya serta manifestasi kliniknya. Selamat berbagi informasi!


Sindrom
Area cedera
Kehilangan fungsi
Central Cord Syndrome
Substansia alba dan grisea sentral medulla spinalis, terjadi paling banyak pada cedera hiperekstensi servikal.
Kehilangan neuron motorik atas pada lengan
Anterior Cord Syndrome
Dua pertiga anterior medulla spinalis terjadi paling banyak pada cedera fleksi dan kompresi .
 Traktus kortikospinal (motorik).
Traktus spinotalamus
(sensori).
Kehilangan fungsi motorik komplet dibawah level cedera.
Kehilangan sensasi nyeri, sentuhan dan suhu.
Masih merasakan sentuhan ringa, propriosepsi, dan rasa posisi.
Brown Sequard Syndrome
Hemiseksi korda anterior dan posterior (misalnya, disebabkan oleh luka tusuk).
Traktus kortikospinal pada sisi ipsilateral
Traktus spinotalamus pada sisi kontralateral
Kehilangan fungsi motorik komplet dibawah level lesi, pada sisi ipsilateral.
Kehilangan sensasi nyeri, sentuhan dan suhu pada sisi kontralateral untuk semua area dibawah lesi.
Cauda Equina Syndrome
Dibawah L2
Kehilangan fungsi motorik dan sensori.
Conus Medullaris Syndrome
level tulang belakang lumbar 1 (L1) dan 2 (L2).
nyeri di punggung bawah, mati rasa pada kaki dan kaki, mati rasa di pangkal paha atau paha, kesulitan dalam berjalan, impotensi, kehilangan kontrol atas kandung kemih dan melemahnya kaki.