Kamis, 13 September 2012
Struktur BPH HIMAFISIO periode 2012-2013
Ketua : Yahya Dwitama
Sekretaris : Nurmalasari
Bendahara : Wilda Maryadin
Divisi Kesekretariatan:
Nur Ashriawati B.
Muliati
Nurwakia Harun
Siti Nurbaya
Diah Pramudita
Divisi Kaderisasi:
Sri Rezeki Samsurya
Nurhayati Pattang
Nur Rahmah
Eka Agustiani
Lia Dwitasari
Divisi pendidikan & peng. keilmuan:
Apriani
Triana Karnadipa
Dyan Novita M.S.
Nur Azriyani Naim
Rabia
Divisi Kerohanian:
Eka Novianti I.
Syahriani Syani
Wahyuni Dwi Cahya
Abdul Haris
Nur Asyikah
Divisi Hubungan Luar:
Muhammad Akbar
Andi Ikhlasia
Tri Wahyuningsih Bahri
Mariyal Qibtiyah
Nurul Afrilah Mahkota
Divisi Minat & Bakat:
Kurnia Putri Utami
Anita Taurisia
Muhammad Akil
Fadliana Utami
Nurmelia Rante
Divisi Kewirausahaan:
Gresilia Tambing
Beatrice Suwarni Tjouwardi
Fadliah Amiruddin
Musria Rahman M.
Ummi Faizah
Selasa, 11 September 2012
Penerimaan Mahasiswa Baru 2012
Yahya Dwitama, ketua HIMAFISIO periode 2012-2013 bersama salah satu MABA fisioterapi 2012
Menyimak materi yang dibawakan oleh Kanda Nuel
well, setelah menyimak materi dari kanda Nuel...
Mari kita Makan :)

Selamat datang di jurusan Fisioterapi adik-adik :)
Jumat, 25 Mei 2012
Paradigma Berorganisasi
Kenapa
anda mau membuang-buang waktu berorganisasi? Apa untungnya? Bukankah tugas
utama mahasiswa hanya kuliah? Pertanyaan jenis
ini seperrtinya sudah basi kedengarannya
ditelinga mahasiswa.. jawaban dan redaksi katanya mungkin berbeda-beda,
tetapi Hampir semuanya sependapat bahwa datang mendengarkan ceramah kuliah dari
dosen saja, tidaklah cukup. dan hamper semua pula sepakat bahwa mahasiswa
kodratnya butuh sebuah tempat
sebagaiwadah pengembangan diri,
dansebagainya, dan sebagainya. Tidak sedikit pun dari mahasiswa yang memasuki
lebih dari satu organisasi, baik internal maupun eksternal kampus. Jadi bisa
dikatakan bahwa Trend Berorganisasi kini telah menjamur di kalangan mahasiswa
“Melalui
organisasi, kita dapat belajar bersosialisasi, belajar disiplin, belajar
menghargai waktu, pandai berkomunikasi, dsb” beginilah sepenggal harapan dan
cita-cita para anggota sebuah organisasi.
Namun sudahkah organisasi menanamkan kepada anggotanya proses
pembelajaran?? Jangan sampai organisasi hanya menjadi tempat “kerja” dan
sebagai gengsi bagi anggotanya. Organisasi hari ini cenderung terkungkung dalam
program kerja dan deadline. Mengejar kegiatan yang terkesan luar biasa dan
mengorbankan banyak tenaga. Karna ukuran keberhasilan dinilai bergantung dari
seberapa banyak program kerja yang dapat terealisasi dan seberapa banyak
kegiatan eksternal yang berhasil menyedot banayak peserta.
Tapi,
sudahkah anggotanya mengambil nilai pembelajaran untuk semua kegiatan yang
telah terlaksana? Jangan sampai demi sebuah prestise, kemudian organisasi
menjadi kehilangan orientasinya sebagai pembelajaran dan pendidikan kepada
anggotanya melalui proses yang dijalani. Jadi tidaklah salah bila kita
menyatakan bahwa, keberhasilan bukanlah apa output yang dihasilkan, namun
bagaimana sebuah proses bisa menanamkan proses pembelajaran bagi anggotanya.
Rabu, 09 Mei 2012
SERBA SERBI FISIOTERAPI FK UNHAS
Fisioterapi
merupakan salah satu program studi yang terbilang baru di Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin. Program studi ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun
2005 dengan menerima mahasiswa Diploma III Fisioterapi. Namun, peneriman
mahasiswa baru jalur reguler/SMA dibuka untuk umum pada tahun 2008. Hal ini
terjadi karena prodi fisioterapi harus melalui beberapa seleksi kelayakan, baik
tingkat fakultas maupun universitas.
Sejarah Fisioterapi
FK-UNHAS :
Tahun 2005 :
Pendidikan S1 Fisioterapi pertama dimulai
di Indonesia dengan adanya MOU
kerjasama antara FK-UNHAS, IFI Cabang Makassar dan Poltekes Makassar yang digagas oleh Bapak Drs.H. Djohan Aras,S.Ft, Physio, M.Pd, M.Kes
Tahun 2006 : Prodi
Fisioterapi FK-UNHAS menjalani proses
kelayakan pada tingkat Fakultas Kedokteran melalui Rapat Senat FK-UNHAS
Tahun 2007 : Prodi
Fisioterapi FK-UNHAS menjalani proses kelayakan pada tingkat Universitas
Tahun 2008 : tanggal
13 Maret, Pendidikan S1 Fisioterapi pertama di Indonesia lahir
di Makassar secara resmi melalui SK DIRJEN DIKTI DEPDIKNAS No:852/D/T/2008 dan
pada tahun itu juga peneriman mahasiswa baru jalur reguler/SMA dibuka untuk
umum.
Visi Prodi Fisioterapi FK-UNHAS
Pada tahun 2015
menjadi pusat pendidikan tenaga Fisioterapi unggul sebagai penghasil tenaga
Fisioterapi Profesional yang berdedikasi
dan bermoral tinggi serta mampu bersaing di Era Globalisasi
Tujuan
pendidikan :
- Melaksankan proses fisioterapi secara bertanggung jawab & sistem pelayanan kesehatan, fisioterapi dasar sampai ketingkat kerumitan tertentu secara mandiri kepada individu, keluarga & komunitas berdasarkan etika Fisioterapi
- Mengelolah pelayanan fisioterapi profesional dengan menunjukkan sikap kepemimpinan yang bertanggung jawab.
- Mengelola kegiatan penelitian fisioterapi dengan menggunakan hasil penelitian serta perkembangan IPTEK untuk meningkatkan mutu & jangkauan layanan Kemitraan fisioterapi.
- Berperan serta aktif dalam mendidik & melatih calon Fisioterapi & Fisoterapis serta berpartisipasi dalam peningkatan jenjang pndidikan lanjut Fisioterapi
- Mengembangkan diri secara kontinyu untuk meningkatkan kemampuan profesional, kepribadian serta sikap yang sesuai dengan etika Fisioterapi dalam melaksanakan profesinya.
- Berfungsi sebagai anggota masyarakat yang kreatif, produktif, terbuka untuk menerima perubahan serta berorientasi ke masa depan.
Sistem pendidikan :
Dibagi dalam dua tahap dalam satu paket yang tidak terpisah sesuai rekomendasi IFI No. R. 161/III/2006/IFI
tentang gelar dan sebutan yaitu:
ALASAN MENGAPA MAHASISWA HARUS BERORGANISASI
Banyak
orang yang bertanya ketika menjadi
seorang mahasiswa “Mengapa saya harus ikut
pengkaderan yang dilaksanakan oleh senior?” Pertanyaan
itu merupakan pertanyaan klasik bagi seorang insan akademisi yang baru saja menginjakkan kakinya di
dunia civitas akademika. Sebagian lagi berpikir bahwa berorganisasi
adalah sunnah atau pilihan yang
dianggap sebagai prioritas kegiatan yang kesekian kalinya di bawah kegiatan wajib
kampus, yaitu kuliah. Sering
mahasiswa mendikotomikan antara kuliah dan berorganisasi. Paradigma yang salah
tersebut mengisyaratkan bahwa organisasi dan kuliah adalah sebuah opsi, maka seorang mahasiswa
berhak untuk tidak berorganisasi. Salah satu bahasa pembenaran untuk
menyalahkan argumen tersebut adalah legalitas hukum yang lahir dari proses
penalaran dan analisis. Salah satu bentuk legalitas organisasi adalah SK Dikti yang berbunyi sebagai berikut : Undang-Undang Republik
Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 12
ayat (1) b menyatakan bahwa setiap peserta didik pada satuan pendidikan berhak mendapatkan
pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Untuk itu, mahasiswa
yang merupakan peserta didik sebagai generasi penerus perjuangan bangsa perlu
dibekali dengan kemampuan yang memadai agar aset bangsa yang sangat potensial
tersebut mampu bersaing dalam era global. Para mahasiswa diharapkan tidak hanya
menguasai bidang ilmu yang ditekuni di kampus, tetapi juga mengusai bidang lain
yang dapat menunjang keberhasilan mereka di masa depan.
Menjadi
pertanyaan buat kita, dimana seorang insan akademisi membekali kemampuan,
minat, dan bakat? Anda akan menjawab kuliah?
Jawabannya tentu saja bukan. Anda akan mendapatkan kemampuan tersebut melalui
organisasi. Tapi ingat, dalam berorganisasi seorang kaum intelektual tidak
boleh menganut pragmatisme dan egosentris. Memandang sebuah organisasi
adalah sebuah jalan untuk mendapatkan profit.
Untuk itu menurut
pandangan saya,
diperlukan sinergitas antara ilmu berbasic scientific
evidens dan life-skill yang
berasaskan Pancasila dan UUD. Jadi,
organisasi merupakan suatu bentuk keharusan dalam sistem pendidikan yang
berkarakter baik dari sisi humaniora maupun sisi intelegensia seorang insan
akademisi (baca:mahasiswa). Sudah menjadi dogma di kehidupan akademisi kampus,
mahasiswa mempunyai 3 bentuk tanggung jawab
yang dijabarkan melalui Tri Darma
Perguruan Tinggi yang isinya :
Mahasiswa mempunyai tanggung jawab pada (1) pendidikan, (2) penelitian,
dan (3) pengabdian kepada masyarakat.
Pada
poin pendidikan dan penelitian, seoran insan akademisi menyelesaikan tanggung
jawab melalui kegiatan-kegiatan empiris melalui jenjang perkuliahan. Seorang
mahasiswa dikatakan menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai insan akademisi
ketika ia telah menyelesaikan semua prosesi perkuliah mulai dari awal hingga
penalaran ilmiah yang kebanyakan bersifat induktif (baik pembuatan skripsi,
tesis, ataupun disertasi). Nah, poin ke-3 dikemanakan? Banyak orang yang
non-organisatoris mengatakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) adalah bentuk dari poin
(3) tersebut. Logiskah menurut Anda ketika proses penyelesaian tanggung jawab
poin (1) dan (2) dilaksanakan dari awal ketika seseorang berstatus mahasiswa
(baca:terdaftar) dibandingkan Anda menyelesaikan KKN guna menggugurkan
kewajiban poin (3)?
Toh
pada hakikatnya diperlukan koherensi time
line antara penyelesaian tanggung jawab ketiga poin tersebut. Ada lagi yang
beranggapan bahwa “ketika saya kerja saya
nantinya akan menyelesaikan tanggung jawab pengabdian tersebut”. Mind set
tersebut sangat salah, sebab ketika
seseorang telah menyelesaikan
studi, maka statusnya bukan lagi mahasiswa tetapi sebagai masyarakat. Jadi, Anda tidak akan
menyelesaikan tanggung jawab poin ketiga. Dan ingat dalam agama, tanggung jawab
ketika tidak dilaksanakan adalah ingkar dan orang ingkar akan (....) Anda jawab sendiri.
Guna semakin memahami lebih dalam pahami karakteristik mahasiswa sebagai agent of change, moral force, sosial control, dan
agent of iron stock oleh dr. Ali Sariati.
Organisasi
juga merupakan suatu kebutuhan bukan keinginan. Berorganisasi bukan candu
melainkan obat penyejuk jiwa seorang yang gelisah dalam mencari jati diri.
Banyak orang-orang yang dulunya hedonis ekstrim berubah menjadi seseorang yang
peduli terhadap penderitaan rakyat kecil melalui kegiatan organisasi. Banyak
hal yang biasanya tidak ternilai lewat materi. Hei, kaum materialis! Ingat, sebuah senyuman yang
lahir dari wajah tulus rakyat yang Anda
bantu melalui kegiatan organisasi intra kampus lebih bernilai dibandingkan dengan uang. Ingat bahwa mahasiswa dikenal dengan
kaum idealis, kritis dan universal. Melalui organisasi lah Anda dapat mendapatkan
hal ini. Jika
dibahas secara teoritis, Anda tidak akan mendapatkan apa-apa dari hasil bacaan
ini. Melainkan Anda harus merasakan sendiri. Karena melalui pengalaman
empirislah Anda dapat merasakan “nikmatnya” berorganisasi mahasiswa.
Oleh : Rulyan
Muslimin H.
Langganan:
Postingan (Atom)








